Curug Malela, Niagara Mini Dari Bandung

Air Terjun Niagara di AS memang keren, tapi siapa sangka, Bandung juga punya ‘Niagara’ yakni Curug Malela. Mencapainya memang butuh perjuangan, tapi sesuai dengan keindahan yang didapat.

IMG_4360

Curug Malela mulai populer dengan julukan ‘Niagara Mini’ dari Bandung. Air terjun ini berlokasi di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga-Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. Mencapainya memang butuh trekking, namun keindahan air terjunnya tak terelakkan.

Berawal dari rasa penasaran tentang Curug Malela yang katanya susah akses untuk ke sana. Dengan rasa penasaran dan jiwa petualangan, akhirnya memaksa untuk datang ke sana. Padahal tak tahu jalan ke sana.

Berbekal info dari teman dan internet, saya pun berangkat ke sana berdua teman. Pagi itu waktu sekitar pukul 8 pagi. Saya berdua berangkat menggunakan motor kesayangan.

Oke, perjalanan dimulai dari Sukajadi, Bandung, menuju Curug Malela di daerah Cicadas, Kecamatan Rongga, Bandung Barat. Kalau menurut saya, untuk ke sana itu capek di jalannya saja. Bayangkan saja, saya pakai motor dari Bandung buat ke sana itu butuh waktu 4 jam. Lebih cepat ke Garut daripada ke sana.

Sebenarnya sih bukan jauh lokasinya, karena menurut saya jauh itu relatif. Yang jadi masalah adalah jalannya pas sudah masuk Kecamatan Rongga yang agak jelek, terlebih setelah masuk perkebunan teh.

Dengan jalan yang banyak batu besar dan licin lantaran tanah merah, alhasil saya pun terjatuh. Lutut sakit sekali, sampai tak bisa bangun. Si motor sampe bengkok stangnya.

Tidak habis di situ, saya bangkit lagi dan melanjutkan perjalanan. Sejam lah kira-kira kita bakal sampai lokasi setelah lewat perkebunan teh. Jelas saja ‘niagara mini indonesia’ ini masih jarang terjamah lantaran akses susah.

Inilah petualangan yang mengesankan. Sampai di sana sekitar pukul 12 siang, saya istirahat sambil ngopi dan parkir motor di parkiran milik warga sekitar.

Tidak sabar ingin lihat Curug Malela, saya buru-buru ngopi dan turun ke bawah untuk melihatnya. Wow, amazing! Niagara mininya Indonesia di depan mata.

Saat saya ke sana memang benar-benar sepi, hanya ada beberapa orang pengunjung dan para petani saja. Dengan santai saya menikmati deburan air yang jatuh dari ketinggian 60-70 m. Pastinya tidak melewati momen berharga ini dengan narsis ria.

Tapi sayang, air saat itu deras sekali dan terlihat keruh. Maklum musim penghujan saat itu. Kata warga situ, malamnya habis hujan besar sampai pukul 4 subuh.

Setelah 2 jam puas menjelajah Curug Malela, saya akhirnya memutuskan pulang. Takut kehujanan di trek yang bisa bikin motor makin parah untuk berjalan.

Pukul 3 sore saya balik lagi ke Bandung dengan perjalanan yang lumayan lama. Terlebih diguyur hujan sepanjang jalan. Pukul 8 malam sampailah di rumah. Dengan badan kedinginan dan bersin.

Saran saya, kalau untuk ke sana jangan saat musim hujan. Debit air pasti naik, air rada keruh, dan jalan pasti becek berlubang. Kalau pakai motor, saran saya jangan, terlebih bukan motor trail. Mendingan naik ojek. Di sana ada jasa ojek. Tarif sekitar Rp 70 ribuan pulang pergi, masih bisa nego.

Sumber : travel.detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *